Yatim Piatu (10) ini Menghidupi Dirinya dari Ranting Hutan

09 June 2026

HIDUP SENDIRIAN DI USIA 10 TAHUNđź’”


Yuni Lestari (10) duduk di kelas 2 SD. Seorang yatim piatu yang hidup sendiri di rumah kecil peninggalan orang tuanya—atap bocor, dinding rapuh, tapi tetap ia tempati dengan tenang.

Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya menyusul 4 bulan lalu akibat kecelakaan kerja. Sejak itu, Yuni bertahan hidup sendiri di desa kecil yang jauh dari keramaian.

Setiap pulang sekolah jam 11 siang hingga sore, Yuni masuk ke hutan kecil di pinggir desa. Ia mengumpulkan ranting kayu kering, tangan kecilnya sering tertusuk duri, tapi ia tetap melanjutkan. Kayu itu ia ikat jadi 1–5 bundel dan dijual ke pengepul seharga sekitar Rp7.000, atau kadang ia keliling sendiri. Hasilnya hanya cukup untuk makan sederhana hari itu.

Di sekolah, Yuni dikenal rajin dan tidak pernah tertidur meski sering lelah. Sekolah adalah satu-satunya harapan yang ia genggam.

Kini, beberapa warga mulai membantu membeli kayunya lebih sering, bahkan memberi makanan tambahan. Namun perjuangan Yuni masih jauh dari cukup.

Ia tidak hanya sedang bertahan hidup… tapi juga sedang berusaha tetap punya masa depan.


Yuk bantu anak tangguh ini demi hidupi dirinya sendiri


Belum ada update
Dana terkumpul

Rp 0

dari target Rp 50.000.000

 
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 92
    hari lagi
Donasi
Rumah Yatim
Donasi
Ayobantu Indonesia
AyoBantu Galang Dana

Jadi fundraiser untuk campaign ini

Gabung

Yatim Piatu (10) ini Menghidupi Dirinya dari Ranting Hutan

Sosial
Dana terkumpul

Rp 0

 
Target: Rp Rp 50.000.000
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 92
    hari lagi
Donasi
09 June 2026

HIDUP SENDIRIAN DI USIA 10 TAHUNđź’”


Yuni Lestari (10) duduk di kelas 2 SD. Seorang yatim piatu yang hidup sendiri di rumah kecil peninggalan orang tuanya—atap bocor, dinding rapuh, tapi tetap ia tempati dengan tenang.

Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya menyusul 4 bulan lalu akibat kecelakaan kerja. Sejak itu, Yuni bertahan hidup sendiri di desa kecil yang jauh dari keramaian.

Setiap pulang sekolah jam 11 siang hingga sore, Yuni masuk ke hutan kecil di pinggir desa. Ia mengumpulkan ranting kayu kering, tangan kecilnya sering tertusuk duri, tapi ia tetap melanjutkan. Kayu itu ia ikat jadi 1–5 bundel dan dijual ke pengepul seharga sekitar Rp7.000, atau kadang ia keliling sendiri. Hasilnya hanya cukup untuk makan sederhana hari itu.

Di sekolah, Yuni dikenal rajin dan tidak pernah tertidur meski sering lelah. Sekolah adalah satu-satunya harapan yang ia genggam.

Kini, beberapa warga mulai membantu membeli kayunya lebih sering, bahkan memberi makanan tambahan. Namun perjuangan Yuni masih jauh dari cukup.

Ia tidak hanya sedang bertahan hidup… tapi juga sedang berusaha tetap punya masa depan.


Yuk bantu anak tangguh ini demi hidupi dirinya sendiri



Belum ada update

Harapan #TemanPeduli
Fundraiser
Gabung
Kamu juga bisa bantu: