Nenek sering beberapa kali istirahat bahkan sampai tertidur di jalanan. Tubuh renta dan kaki yang gontai seakan tidak kuat lagi untuk berjalan. Namun Nenek tidak punya pilihan lain demi bisa membeli beras, melunasi hutang dan membiayai anaknya yang sakit-sakitan terus.
Emak Kelaparan pun nggak apa-apa, asal bisa bertahan hidup. Maafin Emak belum bisa bawa Agit Berobat, ucap Nek Sumini sambil menahan air mata.
Di Usianya yang sudah tak muda lagi yakni 64 tahun, Nek Sumini seharusnya bisa menikmati masa tua dengan tenang. Namun, ia masih harus bekerja keras demi anaknya, Agit, yang sering sakit-sakitan sejak usia 12 tahun. Setelah ditinggalkan oleh Bapaknya tanpa kabar dan tak bertanggung jawab, kini hanya Nek Sumini yang merawatnya seorang diri.
Setiap pagi, Nek Sumini berjalan kaki sejauh 10 km menjajakan dan menawarkan sayuran dari rumah ke rumah dan Sebagian besar uangnya harus disetorkan kepada pemilik barang dagangan yakni petani sayuran. Tubuhnya yang renta terasa semakin berat, tapi ia tetap melangkah demi mencari nafkah.
Pulang sebentar untuk merawat hanya untuk menengok Anaknya Agit (33 tahun) memberinya makan, membersihkan tubuhnya, dan mengurus kebutuhannya lalu kembali melanjutkan dagangannya hingga sore hari kadang sampai menjelang isya baru sampai ke rumah.
Nek Sumini dan anaknya tinggal di Desa Patimuan RT 003 RW 007 Kelurahan Patimuan Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Mereka tinggal dirumah yang kepemilikan tanahnya masih dicicil secara angsuran, rumah yang ditinggali ini sangat sederhana dan tidak memiliki kamar mandi MCK.
Nek Sumini dan anaknya ketika ingin ke kamar mandi harus menumpang ke tetangga sebelahnya, setiap hari harus berjualan sayur yang ia ambil dari petani untuk dijual, terkadang jika Nek Sumini kelelahan ia sering kali berhenti di pinggiran jalan hanya untuk sekedar beristirahat dan berdiam diri kadang juga merasa lelah dan letih.
Anaknya Agit sudah sejak dulu sakit-sakitan ia menderita sakit ambeien belum lagi ditambah ada sedikit kelainan mental dan pendengaran yang membuatnya sekolah hanya sampai kelas 3 SD, kadang jika sakitnya kambuh Agit tidak bisa berjalan hanya bisa berbaring kesakitan di atas kasur.
Dengan kondisi Agit yang seperti itu kadang Agit berinisiatif untuk membantu ibunya untuk mencarikan tambahan dengan menjadi kuli garapan sawah dan kebun milik orang lain dan dibayarkan upah yang tak seberapa. Namun Ketika bekerja pun ia sering kesakitan akibat penyakit yang ada di dalam tubuhnya. Yang membuatnya tak maksimal dalam bekerja.
Berjualan dari pagi hingga petang terkadang tak laku, jika dagangannya laku keuntungan yang didapat hanya 10-15 ribu sehari, kadang jika tidak laku Nek Sumini dengan ikhlas memberikan sayuran nya ke tetangga yang ia sering tumpangi kamar mandinya.
Nenek sering beberapa kali istirahat bahkan sampai tertidur di jalanan. Tubuh renta dan kaki yang gontai seakan tidak kuat lagi untuk berjalan. Namun Nenek tidak punya pilihan lain demi bisa membeli beras, melunasi hutang dan membiayai anaknya yang sakit-sakitan terus.
Emak Kelaparan pun nggak apa-apa, asal bisa bertahan hidup. Maafin Emak belum bisa bawa Agit Berobat, ucap Nek Sumini sambil menahan air mata.
Di Usianya yang sudah tak muda lagi yakni 64 tahun, Nek Sumini seharusnya bisa menikmati masa tua dengan tenang. Namun, ia masih harus bekerja keras demi anaknya, Agit, yang sering sakit-sakitan sejak usia 12 tahun. Setelah ditinggalkan oleh Bapaknya tanpa kabar dan tak bertanggung jawab, kini hanya Nek Sumini yang merawatnya seorang diri.
Setiap pagi, Nek Sumini berjalan kaki sejauh 10 km menjajakan dan menawarkan sayuran dari rumah ke rumah dan Sebagian besar uangnya harus disetorkan kepada pemilik barang dagangan yakni petani sayuran. Tubuhnya yang renta terasa semakin berat, tapi ia tetap melangkah demi mencari nafkah.
Pulang sebentar untuk merawat hanya untuk menengok Anaknya Agit (33 tahun) memberinya makan, membersihkan tubuhnya, dan mengurus kebutuhannya lalu kembali melanjutkan dagangannya hingga sore hari kadang sampai menjelang isya baru sampai ke rumah.
Nek Sumini dan anaknya tinggal di Desa Patimuan RT 003 RW 007 Kelurahan Patimuan Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Mereka tinggal dirumah yang kepemilikan tanahnya masih dicicil secara angsuran, rumah yang ditinggali ini sangat sederhana dan tidak memiliki kamar mandi MCK.
Nek Sumini dan anaknya ketika ingin ke kamar mandi harus menumpang ke tetangga sebelahnya, setiap hari harus berjualan sayur yang ia ambil dari petani untuk dijual, terkadang jika Nek Sumini kelelahan ia sering kali berhenti di pinggiran jalan hanya untuk sekedar beristirahat dan berdiam diri kadang juga merasa lelah dan letih.
Anaknya Agit sudah sejak dulu sakit-sakitan ia menderita sakit ambeien belum lagi ditambah ada sedikit kelainan mental dan pendengaran yang membuatnya sekolah hanya sampai kelas 3 SD, kadang jika sakitnya kambuh Agit tidak bisa berjalan hanya bisa berbaring kesakitan di atas kasur.
Dengan kondisi Agit yang seperti itu kadang Agit berinisiatif untuk membantu ibunya untuk mencarikan tambahan dengan menjadi kuli garapan sawah dan kebun milik orang lain dan dibayarkan upah yang tak seberapa. Namun Ketika bekerja pun ia sering kesakitan akibat penyakit yang ada di dalam tubuhnya. Yang membuatnya tak maksimal dalam bekerja.
Berjualan dari pagi hingga petang terkadang tak laku, jika dagangannya laku keuntungan yang didapat hanya 10-15 ribu sehari, kadang jika tidak laku Nek Sumini dengan ikhlas memberikan sayuran nya ke tetangga yang ia sering tumpangi kamar mandinya.
Bagikan tautan ke media sosial