Bantu Lansia Pejuang Nafkah di Usia Senja

03 January 2026

Bulan suci Ramadhan adalah waktu yang paling dinanti, saat Allah menjanjikan pahala yang dilipatgandakan bagi umat-Nya. Momentum ini menjadi waktu terbaik untuk menebarkan kebaikan tanpa henti dan meraih keberkahan.

Namun, di balik kemuliaan Ramadhan, sebuah kenyataan pahit masih dialami banyak lansia. Mereka menjalani hari tua dalam kesendirian dan keterbatasan yang ekstrem. Dengan kondisi fisik yang lemah, ekonomi yang sulit, dan tanpa dukungan keluarga, mereka harus berjuang hanya untuk bertahan, menghadapi kekurangan kebutuhan pokok, kesehatan, dan rasa aman. Mereka yang seharusnya menikmati masa tenang, justru jauh dari kehidupan yang layak.

Nenek Kariyem, hampir 80 tahun, masih harus berkeliling menjual sayuran. Tubuhnya bungkuk, langkahnya gemetar, namun semangatnya tak pernah padam. Dari satu bungkus sayur, ia hanya mendapat seribu rupiah sering kali tak cukup untuk makan. Hidup sebatang kara sejak ditinggal suami dan anak-anak, harapan sederhana yang ia miliki hanyalah memiliki usaha kecil agar bisa bertahan di masa tua.

Mak Yeni, di usia senja masih berjualan kue keliling. Terkadang tiga hari berturut-turut tak ada satu pun yang membeli, hingga kuenya rusak dan tak layak jual. Ditinggal suami dan kehilangan tiga dari empat anaknya, ia hidup dalam serba kekurangan. Saat tak ada uang untuk makan, ia hanya meneguk air putih untuk menahan lapar. Meski lemah, ia tetap berusaha dan berdoa agar esok ada rezeki.Mak Ukarsih (69 tahun) adalah tulang punggung keluarganya. Setiap hari ia menjual daun keliling demi menghidupi suaminya, Abah Kandi (86 tahun) yang buta dan lumpuh, serta anaknya Kodir (58 tahun) yang juga lumpuh. Dengan tubuh yang mulai rapuh, ia tetap berjuang seorang diri tanpa mengeluh.Mari sambut Ramadhan dengan makna yang lebih berarti dengan memberikan bingkisan untuk para lansia dan dhuafa berupa perlengkapan ibadah, sembako, serta kebutuhan pangan lainnya yang sangat mereka butuhkan.

Ayo, #SahabatKebaikan, kita bantu para lansia pejuang nafkah yang masih bertahan di tengah segala keterbatasan.

Semoga setiap kebaikan yang kamu berikan dibalas Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.


Belum ada update
Dana terkumpul

Rp 0

dari target Rp 50.000.000

 
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 177
    hari lagi
Donasi
LAZIS Darul Hikam
Donasi
Ayobantu Indonesia
AyoBantu Galang Dana

Jadi fundraiser untuk campaign ini

Gabung

Bantu Lansia Pejuang Nafkah di Usia Senja

Sosial
Dana terkumpul

Rp 0

 
Target: Rp Rp 50.000.000
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 177
    hari lagi
Donasi
03 January 2026

Bulan suci Ramadhan adalah waktu yang paling dinanti, saat Allah menjanjikan pahala yang dilipatgandakan bagi umat-Nya. Momentum ini menjadi waktu terbaik untuk menebarkan kebaikan tanpa henti dan meraih keberkahan.

Namun, di balik kemuliaan Ramadhan, sebuah kenyataan pahit masih dialami banyak lansia. Mereka menjalani hari tua dalam kesendirian dan keterbatasan yang ekstrem. Dengan kondisi fisik yang lemah, ekonomi yang sulit, dan tanpa dukungan keluarga, mereka harus berjuang hanya untuk bertahan, menghadapi kekurangan kebutuhan pokok, kesehatan, dan rasa aman. Mereka yang seharusnya menikmati masa tenang, justru jauh dari kehidupan yang layak.

Nenek Kariyem, hampir 80 tahun, masih harus berkeliling menjual sayuran. Tubuhnya bungkuk, langkahnya gemetar, namun semangatnya tak pernah padam. Dari satu bungkus sayur, ia hanya mendapat seribu rupiah sering kali tak cukup untuk makan. Hidup sebatang kara sejak ditinggal suami dan anak-anak, harapan sederhana yang ia miliki hanyalah memiliki usaha kecil agar bisa bertahan di masa tua.

Mak Yeni, di usia senja masih berjualan kue keliling. Terkadang tiga hari berturut-turut tak ada satu pun yang membeli, hingga kuenya rusak dan tak layak jual. Ditinggal suami dan kehilangan tiga dari empat anaknya, ia hidup dalam serba kekurangan. Saat tak ada uang untuk makan, ia hanya meneguk air putih untuk menahan lapar. Meski lemah, ia tetap berusaha dan berdoa agar esok ada rezeki.Mak Ukarsih (69 tahun) adalah tulang punggung keluarganya. Setiap hari ia menjual daun keliling demi menghidupi suaminya, Abah Kandi (86 tahun) yang buta dan lumpuh, serta anaknya Kodir (58 tahun) yang juga lumpuh. Dengan tubuh yang mulai rapuh, ia tetap berjuang seorang diri tanpa mengeluh.Mari sambut Ramadhan dengan makna yang lebih berarti dengan memberikan bingkisan untuk para lansia dan dhuafa berupa perlengkapan ibadah, sembako, serta kebutuhan pangan lainnya yang sangat mereka butuhkan.

Ayo, #SahabatKebaikan, kita bantu para lansia pejuang nafkah yang masih bertahan di tengah segala keterbatasan.

Semoga setiap kebaikan yang kamu berikan dibalas Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.



Belum ada update

Harapan #TemanPeduli
Fundraiser
Gabung
Kamu juga bisa bantu: