Tak ada yang menyangka, di balik wajah kecilnya yang tampak tegar, Ismail harus menahan rasa sakit yang luar biasa setiap harinya.
Sejak lahir, hidup Ismail sudah penuh ujian. Ia lahir secara caesar dengan berat badan hanya 1,8 kg. Namun cobaan sesungguhnya dimulai saat usianya baru 2 bulan. Ismail mengalami BAB darah hebat hingga tak sadarkan diri dan harus dirawat di ICU. Ia kehilangan begitu banyak darah sampai harus menjalani transfusi demi bertahan hidup.
“Hati saya hancur… saya hanya bisa berdoa, apakah anak saya masih bisa diselamatkan…” ujar ibu Ismail dengan penuh tangis.
Sejak saat itu, Ismail tak pernah benar-benar lepas dari rasa sakit.
Ususnya menipis, lambungnya robek. Setiap hari ia harus menahan nyeri yang tak terlihat. Bahkan hingga kini, Ismail masih sering BAB darah. Meski dari luar terlihat seperti anak biasa, di dalam tubuh kecilnya ada luka yang terus menggerogoti.
Berbagai pengobatan sudah dijalani. Sejak bayi, Ismail harus mengonsumsi obat pendarahan. Namun kondisinya tak kunjung membaik. Bahkan di usia 8 bulan, ia kembali harus dirawat di ICU selama 1 bulan karena lukanya semakin parah.
Kini, dokter menyatakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Ismail adalah melalui operasi besar.
Namun, di saat harapan itu ada… kenyataan justru semakin berat.
Sang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, kini tak lagi mampu bekerja. Ia divonis menderita diabetes dan harus menjalani operasi tumor di punggungnya. Pekerjaannya sebagai tukang becak pun terhenti.
Penghasilan hilang.
Biaya pengobatan terus berjalan.
Tak ada yang menyangka, di balik wajah kecilnya yang tampak tegar, Ismail harus menahan rasa sakit yang luar biasa setiap harinya.
Sejak lahir, hidup Ismail sudah penuh ujian. Ia lahir secara caesar dengan berat badan hanya 1,8 kg. Namun cobaan sesungguhnya dimulai saat usianya baru 2 bulan. Ismail mengalami BAB darah hebat hingga tak sadarkan diri dan harus dirawat di ICU. Ia kehilangan begitu banyak darah sampai harus menjalani transfusi demi bertahan hidup.
“Hati saya hancur… saya hanya bisa berdoa, apakah anak saya masih bisa diselamatkan…” ujar ibu Ismail dengan penuh tangis.
Sejak saat itu, Ismail tak pernah benar-benar lepas dari rasa sakit.
Ususnya menipis, lambungnya robek. Setiap hari ia harus menahan nyeri yang tak terlihat. Bahkan hingga kini, Ismail masih sering BAB darah. Meski dari luar terlihat seperti anak biasa, di dalam tubuh kecilnya ada luka yang terus menggerogoti.
Berbagai pengobatan sudah dijalani. Sejak bayi, Ismail harus mengonsumsi obat pendarahan. Namun kondisinya tak kunjung membaik. Bahkan di usia 8 bulan, ia kembali harus dirawat di ICU selama 1 bulan karena lukanya semakin parah.
Kini, dokter menyatakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Ismail adalah melalui operasi besar.
Namun, di saat harapan itu ada… kenyataan justru semakin berat.
Sang ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, kini tak lagi mampu bekerja. Ia divonis menderita diabetes dan harus menjalani operasi tumor di punggungnya. Pekerjaannya sebagai tukang becak pun terhenti.
Penghasilan hilang.
Biaya pengobatan terus berjalan.
Bagikan tautan ke media sosial