Sejak kecil, hidup Ibu Sulastri (53 tahun) tak pernah mudah. Tubuhnya dipenuhi benjolan akibat penyakit kulit yang diduga Neurofibromatosis, namun ia tetap tegar menghadapi kenyataan hidup yang berat.
Dua tahun lalu, sang ayah (84) terkena stroke dan tak mampu berjalan. Setahun kemudian, ibunya (72) menyusul dengan kondisi yang sama. Kini, keduanya hanya bisa terbaring dan sepenuhnya bergantung pada Ibu Sulastri.
Setiap hari, ia memandikan, menyuapi, mengganti popok, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah sendirian, tanpa bantuan dan tanpa penghasilan tetap. Bantuan pemerintah (PKH) sekitar 1,6–1,8 juta rupiah tiap 2–3 bulan sekali jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan makan, perawatan, dan biaya kesehatan mereka.
Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Atapnya bocor saat hujan, bagian dalamnya tidak terawat karena keterbatasan tenaga dan biaya. Peralatan rumah begitu usang.
Rumah sakit terdekat berjarak sekitar 13 km, namun kedua orang tuanya belum pernah mendapatkan pemeriksaan lanjutan karena kendala biaya, transportasi, dan tidak adanya pendamping jika harus dirawat.
Meski penyakit kulitnya tidak menular, Ibu Sulastri kerap menghadapi stigma sosial. Ada tetangga yang enggan berbaur, bahkan ada yang langsung mengelap tangan setelah bersalaman dengannya. Luka batin itu ia pendam demi tetap fokus merawat kedua orang tuanya.
Kini, Ibu Sulastri membutuhkan uluran tangan kita. Bantuan Anda akan digunakan untuk:
Kebutuhan makan dan perlengkapan harian
Perawatan harian kedua orang tua
Perbaikan rumah yang bocor
Mari ringankan beban Ibu Sulastri. Satu donasi kecil bisa membuat hidup mereka lebih layak dan penuh harapan dengan klik tombol Donasi Sekarang.
Sejak kecil, hidup Ibu Sulastri (53 tahun) tak pernah mudah. Tubuhnya dipenuhi benjolan akibat penyakit kulit yang diduga Neurofibromatosis, namun ia tetap tegar menghadapi kenyataan hidup yang berat.
Dua tahun lalu, sang ayah (84) terkena stroke dan tak mampu berjalan. Setahun kemudian, ibunya (72) menyusul dengan kondisi yang sama. Kini, keduanya hanya bisa terbaring dan sepenuhnya bergantung pada Ibu Sulastri.
Setiap hari, ia memandikan, menyuapi, mengganti popok, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah sendirian, tanpa bantuan dan tanpa penghasilan tetap. Bantuan pemerintah (PKH) sekitar 1,6–1,8 juta rupiah tiap 2–3 bulan sekali jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan makan, perawatan, dan biaya kesehatan mereka.
Kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Atapnya bocor saat hujan, bagian dalamnya tidak terawat karena keterbatasan tenaga dan biaya. Peralatan rumah begitu usang.
Rumah sakit terdekat berjarak sekitar 13 km, namun kedua orang tuanya belum pernah mendapatkan pemeriksaan lanjutan karena kendala biaya, transportasi, dan tidak adanya pendamping jika harus dirawat.
Meski penyakit kulitnya tidak menular, Ibu Sulastri kerap menghadapi stigma sosial. Ada tetangga yang enggan berbaur, bahkan ada yang langsung mengelap tangan setelah bersalaman dengannya. Luka batin itu ia pendam demi tetap fokus merawat kedua orang tuanya.
Kini, Ibu Sulastri membutuhkan uluran tangan kita. Bantuan Anda akan digunakan untuk:
Kebutuhan makan dan perlengkapan harian
Perawatan harian kedua orang tua
Perbaikan rumah yang bocor
Mari ringankan beban Ibu Sulastri. Satu donasi kecil bisa membuat hidup mereka lebih layak dan penuh harapan dengan klik tombol Donasi Sekarang.
Bagikan tautan ke media sosial