Tubuhnya Terbatas, Tapi Cahaya
Al-Qur’annya Tak Pernah Padam
Jauh dari hiruk pikuk kota, di sebuah sudut dusun yang sederhana, ada sosok luar biasa bernama Ustadz Sapoan.

Seorang guru ngaji yang menjalani hidup
penuh perjuangan.
Sejak kecil, Ustadz Sapoan harus menerima kenyataan bahwa tubuhnya tidak tumbuh seperti kebanyakan orang. Kondisi fisiknya yang berbeda membuat ia kerap mendapatkan ejekan dan perlakuan yang menyakitkan.
Di tengah keterbatasan, Ustadz Sapoan memilih untuk tetap berdiri. Ia memilih untuk tetap bermanfaat. Ia memilih untuk memberikan arti bagi orang-orang di sekitarnya.

Setiap siang, ia berjuang mencari nafkah sebagai seorang nelayan. Ustadz Sapoan tidak memiliki sampan sendiri. Ia hanya mengandalkan perahu milik orang lain untuk mencari rezeki di laut. Jaring yang digunakan pun sudah rusak dan tidak lagi layak digunakan.
Dari hasil tangkapan yang tidak seberapa, penghasilannya masih harus dibagi bersama hingga lima orang. Tak jarang, setelah seharian melawan ombak dan lelahnya laut, ia pulang tanpa membawa hasil apa pun.
Sementara di rumah sederhana, istri dan dua anaknya tetap menunggu dengan penuh harapan.

Namun ketika malam tiba, perjuangan Ustadz
Sapoan belum berakhir.
Lelah yang dirasakan seakan hilang ketika ia duduk bersama anak-anak di pelosok desa. Dengan penuh kesabaran, ia mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an. Ia membimbing mereka mengenal kalamullah. Ia menanamkan ilmu meski dirinya sendiri hidup dalam keterbatasan.
Bagi Ustadz Sapoan, mengajarkan Al-Qur’an
adalah bentuk pengabdian yang ingin terus ia jalankan selama masih diberi
kesempatan.
Namun di balik perjuangan seorang guru ngaji, ada kebutuhan hidup yang juga harus diperhatikan.
Melalui halaman galang dana ini, ASAR
Humanity mengajak untuk bersama-sama menghadirkan kebahagiaan bagi para dai
difabel dan santri pelosok yang membutuhkan.
Bantuan yang diberikan akan membantu
menghadirkan santunan, kebutuhan pangan serta kebutuhan mendesak lainnya
Tubuhnya Terbatas, Tapi Cahaya
Al-Qur’annya Tak Pernah Padam
Jauh dari hiruk pikuk kota, di sebuah sudut dusun yang sederhana, ada sosok luar biasa bernama Ustadz Sapoan.

Seorang guru ngaji yang menjalani hidup
penuh perjuangan.
Sejak kecil, Ustadz Sapoan harus menerima kenyataan bahwa tubuhnya tidak tumbuh seperti kebanyakan orang. Kondisi fisiknya yang berbeda membuat ia kerap mendapatkan ejekan dan perlakuan yang menyakitkan.
Di tengah keterbatasan, Ustadz Sapoan memilih untuk tetap berdiri. Ia memilih untuk tetap bermanfaat. Ia memilih untuk memberikan arti bagi orang-orang di sekitarnya.

Setiap siang, ia berjuang mencari nafkah sebagai seorang nelayan. Ustadz Sapoan tidak memiliki sampan sendiri. Ia hanya mengandalkan perahu milik orang lain untuk mencari rezeki di laut. Jaring yang digunakan pun sudah rusak dan tidak lagi layak digunakan.
Dari hasil tangkapan yang tidak seberapa, penghasilannya masih harus dibagi bersama hingga lima orang. Tak jarang, setelah seharian melawan ombak dan lelahnya laut, ia pulang tanpa membawa hasil apa pun.
Sementara di rumah sederhana, istri dan dua anaknya tetap menunggu dengan penuh harapan.

Namun ketika malam tiba, perjuangan Ustadz
Sapoan belum berakhir.
Lelah yang dirasakan seakan hilang ketika ia duduk bersama anak-anak di pelosok desa. Dengan penuh kesabaran, ia mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an. Ia membimbing mereka mengenal kalamullah. Ia menanamkan ilmu meski dirinya sendiri hidup dalam keterbatasan.
Bagi Ustadz Sapoan, mengajarkan Al-Qur’an
adalah bentuk pengabdian yang ingin terus ia jalankan selama masih diberi
kesempatan.
Namun di balik perjuangan seorang guru ngaji, ada kebutuhan hidup yang juga harus diperhatikan.
Melalui halaman galang dana ini, ASAR
Humanity mengajak untuk bersama-sama menghadirkan kebahagiaan bagi para dai
difabel dan santri pelosok yang membutuhkan.
Bantuan yang diberikan akan membantu
menghadirkan santunan, kebutuhan pangan serta kebutuhan mendesak lainnya
Bagikan tautan ke media sosial