bantu ajon melawan penyakit tumor

25 May 2026

Di sebuah rumah gubuk kecil berukuran 4x4 meter yang nyaris roboh, Ajon menjalani hidup penuh perjuangan bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Dinding rumahnya bolong, atapnya bocor, dan lantainya dingin saat hujan turun. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan perjuangan seorang ayah yang setiap hari bertarung melawan rasa sakit demi keluarganya.

Ajon hanyalah seorang buruh kupas kelapa. Dulu, tenaga dan semangatnya masih kuat. Dalam sehari ia mampu mengupas hingga 1.000 butir kelapa demi membawa pulang uang untuk makan anak dan istrinya. Tetapi kini semuanya berubah sejak tumor ganas tumbuh di perutnya.

Tubuh Ajon semakin lemah dari hari ke hari. Untuk berdiri lama saja ia sering menahan nyeri. Bahkan sekarang, mengupas 100 butir kelapa pun sudah membuatnya hampir tak sanggup bernapas. Tangan kasarnya tetap bekerja meski tubuhnya gemetar menahan sakit. Kadang setelah seharian bekerja, uang yang berhasil ia bawa pulang hanya Rp10 ribu.

Uang itu bahkan tak cukup untuk membeli kebutuhan makan keluarganya. Namun sebagai kepala keluarga, Ajon tetap memaksakan diri bekerja karena ia takut melihat anak-anaknya kelaparan.

Perjuangan Ajon tidak berhenti di situ. Demi bertahan hidup, ia harus menjalani kemoterapi di RSUD luar kota dengan perjalanan yang memakan waktu seharian penuh. Setiap sekali berobat, biaya perjalanan dan kebutuhan selama pengobatan mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.

Jumlah yang sangat besar bagi seorang buruh kupas kelapa seperti dirinya.

Sering kali Ajon terpaksa meminjam uang kepada tetangga hanya agar bisa berangkat berobat. Bahkan untuk transfusi darah yang harus dijalani setiap dua minggu sekali, ia harus menahan rasa malu demi meminta bantuan sana-sini.

Di tengah rasa sakit yang terus menggerogoti tubuhnya, Ajon masih memikirkan keluarganya. Ia takut jika suatu hari nanti tidak lagi mampu bekerja dan meninggalkan anak-anaknya tanpa harapan.

Yang paling menyayat hati, di saat tubuhnya semakin melemah, Ajon masih berusaha tersenyum di depan anak-anaknya. Ia tidak ingin mereka tahu betapa sakit dan takutnya dirinya menghadapi penyakit ini.

“Bapak ingin sembuh… ingin tetap kerja buat anak dan istri,” ucapnya lirih sambil menahan air mata.

Kini Ajon hanya berharap ada uluran tangan dari orang-orang baik agar dirinya bisa terus menjalani pengobatan tanpa terhalang biaya. Ia ingin sembuh, ingin melihat anak-anaknya tumbuh besar, dan ingin tetap menjadi ayah yang mampu melindungi keluarganya.

Karena bagi Ajon, menyerah bukan pilihan… meski tubuhnya perlahan hancur oleh penyakit yang ia derita.


Belum ada update
Dana terkumpul

Rp 0

dari target Rp 10.000.000

 
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 98
    hari lagi
Donasi
Globalposnews chatriy
Donasi
Ayobantu Indonesia
AyoBantu Galang Dana

Jadi fundraiser untuk campaign ini

Gabung

bantu ajon melawan penyakit tumor

Kesehatan
Dana terkumpul

Rp 0

 
Target: Rp Rp 10.000.000
  • 0
    Donasi
  • 0
    Bagikan
  • 98
    hari lagi
Donasi
25 May 2026

Di sebuah rumah gubuk kecil berukuran 4x4 meter yang nyaris roboh, Ajon menjalani hidup penuh perjuangan bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Dinding rumahnya bolong, atapnya bocor, dan lantainya dingin saat hujan turun. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan perjuangan seorang ayah yang setiap hari bertarung melawan rasa sakit demi keluarganya.

Ajon hanyalah seorang buruh kupas kelapa. Dulu, tenaga dan semangatnya masih kuat. Dalam sehari ia mampu mengupas hingga 1.000 butir kelapa demi membawa pulang uang untuk makan anak dan istrinya. Tetapi kini semuanya berubah sejak tumor ganas tumbuh di perutnya.

Tubuh Ajon semakin lemah dari hari ke hari. Untuk berdiri lama saja ia sering menahan nyeri. Bahkan sekarang, mengupas 100 butir kelapa pun sudah membuatnya hampir tak sanggup bernapas. Tangan kasarnya tetap bekerja meski tubuhnya gemetar menahan sakit. Kadang setelah seharian bekerja, uang yang berhasil ia bawa pulang hanya Rp10 ribu.

Uang itu bahkan tak cukup untuk membeli kebutuhan makan keluarganya. Namun sebagai kepala keluarga, Ajon tetap memaksakan diri bekerja karena ia takut melihat anak-anaknya kelaparan.

Perjuangan Ajon tidak berhenti di situ. Demi bertahan hidup, ia harus menjalani kemoterapi di RSUD luar kota dengan perjalanan yang memakan waktu seharian penuh. Setiap sekali berobat, biaya perjalanan dan kebutuhan selama pengobatan mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.

Jumlah yang sangat besar bagi seorang buruh kupas kelapa seperti dirinya.

Sering kali Ajon terpaksa meminjam uang kepada tetangga hanya agar bisa berangkat berobat. Bahkan untuk transfusi darah yang harus dijalani setiap dua minggu sekali, ia harus menahan rasa malu demi meminta bantuan sana-sini.

Di tengah rasa sakit yang terus menggerogoti tubuhnya, Ajon masih memikirkan keluarganya. Ia takut jika suatu hari nanti tidak lagi mampu bekerja dan meninggalkan anak-anaknya tanpa harapan.

Yang paling menyayat hati, di saat tubuhnya semakin melemah, Ajon masih berusaha tersenyum di depan anak-anaknya. Ia tidak ingin mereka tahu betapa sakit dan takutnya dirinya menghadapi penyakit ini.

“Bapak ingin sembuh… ingin tetap kerja buat anak dan istri,” ucapnya lirih sambil menahan air mata.

Kini Ajon hanya berharap ada uluran tangan dari orang-orang baik agar dirinya bisa terus menjalani pengobatan tanpa terhalang biaya. Ia ingin sembuh, ingin melihat anak-anaknya tumbuh besar, dan ingin tetap menjadi ayah yang mampu melindungi keluarganya.

Karena bagi Ajon, menyerah bukan pilihan… meski tubuhnya perlahan hancur oleh penyakit yang ia derita.



Belum ada update

Harapan #TemanPeduli
Fundraiser
Gabung
Kamu juga bisa bantu: