Cahaya yang Tak Boleh Padam di Serambi Mekkah
Di bawah langit Aceh yang biasanya tenang, alam kembali menguji ketabahan kita di awal 2026 ini. 
Bayangkan pagi itu... Saat kopi Gayo baru saja diseduh dan anak-anak bersiap berangkat sekolah dengan tawa. Namun dalam sekejap, tawa itu hilang. Digantikan oleh gemuruh tanah yang luruh dan air yang meluap, memutus jalan, merobohkan dinding rumah, dan menghanyutkan kenangan yang dibangun bertahun-tahun.
Seorang ibu di sudut pengungsian kini hanya bisa mendekap erat kain sarung yang tersisa. Matanya menatap kosong ke arah desanya yang kini terkubur lumpur. Bukan hanya harta yang hilang, tapi rasa aman yang selama ini ia bangun untuk buah hatinya. Di sisi lain, seorang ayah tertunduk lesu, meratapi sawah yang kini menjadi lautan duka, bingung bagaimana esok ia akan memberi makan keluarga.
Aceh sedang kedinginan. Aceh sedang terluka.
Namun, di balik pekatnya kabut bencana, selalu ada satu hal yang tak bisa dihancurkan oleh badai mana pun: Solidaritas kita. 
Aceh telah berkali-kali membuktikan mereka adalah tanah para pejuang yang tangguh. Tapi sekuat-kuatnya pejuang, mereka tetap butuh sandaran saat terjatuh. Sinergi kita bukan sekadar tentang angka di atas kertas, tapi tentang:
- Satu selimut hangat untuk bayi yang menggigil di tenda darurat.
- Satu suap nasi untuk lansia yang sudah tak kuat menahan lapar.
- Dan satu kepastian bahwa mereka tidak berjuang sendirian di tengah kegelapan.
Jangan biarkan doa mereka terhenti di langit-langit tenda pengungsian. Mari kita menjadi jawaban dari doa-doa mereka. Karena sekecil apa pun sinergi yang kita berikan, adalah cahaya harapan bagi mereka untuk kembali bangkit dan menatap masa depan. 
Cahaya yang Tak Boleh Padam di Serambi Mekkah
Di bawah langit Aceh yang biasanya tenang, alam kembali menguji ketabahan kita di awal 2026 ini. 
Bayangkan pagi itu... Saat kopi Gayo baru saja diseduh dan anak-anak bersiap berangkat sekolah dengan tawa. Namun dalam sekejap, tawa itu hilang. Digantikan oleh gemuruh tanah yang luruh dan air yang meluap, memutus jalan, merobohkan dinding rumah, dan menghanyutkan kenangan yang dibangun bertahun-tahun.
Seorang ibu di sudut pengungsian kini hanya bisa mendekap erat kain sarung yang tersisa. Matanya menatap kosong ke arah desanya yang kini terkubur lumpur. Bukan hanya harta yang hilang, tapi rasa aman yang selama ini ia bangun untuk buah hatinya. Di sisi lain, seorang ayah tertunduk lesu, meratapi sawah yang kini menjadi lautan duka, bingung bagaimana esok ia akan memberi makan keluarga.
Aceh sedang kedinginan. Aceh sedang terluka.
Namun, di balik pekatnya kabut bencana, selalu ada satu hal yang tak bisa dihancurkan oleh badai mana pun: Solidaritas kita. 
Aceh telah berkali-kali membuktikan mereka adalah tanah para pejuang yang tangguh. Tapi sekuat-kuatnya pejuang, mereka tetap butuh sandaran saat terjatuh. Sinergi kita bukan sekadar tentang angka di atas kertas, tapi tentang:
- Satu selimut hangat untuk bayi yang menggigil di tenda darurat.
- Satu suap nasi untuk lansia yang sudah tak kuat menahan lapar.
- Dan satu kepastian bahwa mereka tidak berjuang sendirian di tengah kegelapan.
Jangan biarkan doa mereka terhenti di langit-langit tenda pengungsian. Mari kita menjadi jawaban dari doa-doa mereka. Karena sekecil apa pun sinergi yang kita berikan, adalah cahaya harapan bagi mereka untuk kembali bangkit dan menatap masa depan. 
Bagikan tautan ke media sosial