Perkenalkan, nama saya Selvi. Saya lahir dan tumbuh besar di Ngada, Flores. Sejak kecil, hamparan laut biru NTT selalu menjadi pemandangan yang indah, tetapi sejujurnya, saya baru benar-benar 'melihat' kehidupannya setelah bertemu dengan sosok inspiratif, Ibu Sofia. Beliau adalah seorang Instruktur selam dan Dive Manager di Dive Komodo yang pertama kali membuka mata saya pada keajaiban dunia bawah laut.
Momen pertama kali menyelam masih terekam jelas di ingatan saya akan keindahan biota bawah laut yang beragam dan sangat luar biasa. Tetapi setelah mendapatkan lebih banyak pengalaman menyelam serta berinteraksi dengan orang-orang yang peduli terhadap lingkungan, disitulah saya mulai menyadari satu hal bahwa di balik keindahan biota laut yang beragam itu, saya juga menyaksikan kerusakan yang memprihatinkan. Realita tersebut mengubah cara pandang saya dan memicu keinginan kuat untuk melakukan aksi nyata: mengembalikan kelestarian ekosistem terumbu karang dan menyelamatkan laut Flores.
Berangkat dari tekad tersebut, saya memberanikan diri mendaftar ke Program Coral Catch, sebuah program beasiswa yang memberdayakan perempuan lokal untuk melindungi dan memulihkan terumbu karang di Indonesia. Puji syukur, dari sekian banyak pendaftar di seluruh Indonesia, saya terpilih menjadi perempuan pertama yang mewakili Flores.
Melalui program ini, saya dibekali dengan berbagai keterampilan konservasi, mulai dari menilai kesesuaian lokasi untuk pertumbuhan terumbu karang dan merencanakan proyek restorasi karang, hingga transplantasi karang dan memantau keberhasilan struktur restorasi. Saya juga memperoleh pengalaman dalam survei kesehatan ekosistem, input data, dan analisis.
Sekarang, setelah lulus dari Coral Catch, saya kembali ke Flores dan bergabung dengan proyek jangka panjang baru yang menarik bernama Tacik Conservation. Proyek ini berlokasi di Golo Mori, daerah pesisir yang indah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Komodo, yang membutuhkan perlindungan karena tekanan terhadap ekosistem lautnya yang rapuh semakin meningkat.
Dengan Tacik, saya memiliki kesempatan untuk menerapkan keterampilan baru saya, serta terus mengembangkan diri secara pribadi di bidang konservasi laut. Saya merasa telah menemukan panggilan hidup saya dan bahwa sudah menjadi tugas saya untuk mengabdikan diri pada pemulihan ekosistem laut.
Tentu saja untuk melakukan hal diatas, niat saja ternyata tidak cukup. Untuk bekerja profesional melakukan konservasi, saya butuh "lisensi" resmi dan alat yang memadai. Saat ini, saya terbentur biaya untuk:
Sertifikasi Profesional: Saya harus mengambil kelas Rescue Diver & Divemaster. Ini syarat mutlak supaya saya bisa memimpin kegiatan jaga laut dengan standar keselamatan yang tinggi.
Alat Selam Sendiri: Selama ini saya masih pinjam alat selam. Padahal, untuk memantau karang setiap hari secara konsisten, saya butuh alat selam pribadi demi keamanan kerja.
Rencana Penggunaan Dana Setiap bantuan dari teman-teman akan saya gunakan dengan penuh amanah untuk:
Biaya kursus dan ujian sertifikasi selam profesional (Rescue & Divemaster).
Membeli alat selam (BCD, Regulator, wetsuit, fins, boots, SMB dan Komputer Selam).
Saya membutuhkan bantuan teman-teman Setiap rupiah yang teman-teman berikan bukan cuma membantu biaya pelatihan saya, tapi juga investasi nyata untuk masa depan laut Indonesia. Saya ingin terus merawat karang di Flores dan memastikan anak cucu kita nanti masih bisa melihat indahnya bawah laut Flores.
Mari jadi bagian dari perjalanan saya. Dukung saya jadi "Penjaga Laut" yang tangguh!
Cara Donasi:
Klik tombol "DONASI SEKARANG"
Masukkan nominal donasi.
Pilih metode pembayaran.
Bagikan link ini ke grup WhatsApp atau media sosial teman-teman ya!
Terima kasih banyak atas doa dan ketulusan hati Anda. Salam hangat dari Flores untuk laut Indonesia!
Daftar Budget :
Rescue : Rp 3.350.000
DMT : Rp 11.500 000
Dive comp dgn GPS & mapping : Rp 11.000.000
BCD : Rp 9.000.000
Regulator : Rp 13.000.000
Wetsuit : Rp 3,000,000
Fins: Rp 1,000.000
Boots : Rp 400.000
SMB & reel : Rp 800.000
Pisau : 800,000
Perkenalkan, nama saya Selvi. Saya lahir dan tumbuh besar di Ngada, Flores. Sejak kecil, hamparan laut biru NTT selalu menjadi pemandangan yang indah, tetapi sejujurnya, saya baru benar-benar 'melihat' kehidupannya setelah bertemu dengan sosok inspiratif, Ibu Sofia. Beliau adalah seorang Instruktur selam dan Dive Manager di Dive Komodo yang pertama kali membuka mata saya pada keajaiban dunia bawah laut.
Momen pertama kali menyelam masih terekam jelas di ingatan saya akan keindahan biota bawah laut yang beragam dan sangat luar biasa. Tetapi setelah mendapatkan lebih banyak pengalaman menyelam serta berinteraksi dengan orang-orang yang peduli terhadap lingkungan, disitulah saya mulai menyadari satu hal bahwa di balik keindahan biota laut yang beragam itu, saya juga menyaksikan kerusakan yang memprihatinkan. Realita tersebut mengubah cara pandang saya dan memicu keinginan kuat untuk melakukan aksi nyata: mengembalikan kelestarian ekosistem terumbu karang dan menyelamatkan laut Flores.
Berangkat dari tekad tersebut, saya memberanikan diri mendaftar ke Program Coral Catch, sebuah program beasiswa yang memberdayakan perempuan lokal untuk melindungi dan memulihkan terumbu karang di Indonesia. Puji syukur, dari sekian banyak pendaftar di seluruh Indonesia, saya terpilih menjadi perempuan pertama yang mewakili Flores.
Melalui program ini, saya dibekali dengan berbagai keterampilan konservasi, mulai dari menilai kesesuaian lokasi untuk pertumbuhan terumbu karang dan merencanakan proyek restorasi karang, hingga transplantasi karang dan memantau keberhasilan struktur restorasi. Saya juga memperoleh pengalaman dalam survei kesehatan ekosistem, input data, dan analisis.
Sekarang, setelah lulus dari Coral Catch, saya kembali ke Flores dan bergabung dengan proyek jangka panjang baru yang menarik bernama Tacik Conservation. Proyek ini berlokasi di Golo Mori, daerah pesisir yang indah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Komodo, yang membutuhkan perlindungan karena tekanan terhadap ekosistem lautnya yang rapuh semakin meningkat.
Dengan Tacik, saya memiliki kesempatan untuk menerapkan keterampilan baru saya, serta terus mengembangkan diri secara pribadi di bidang konservasi laut. Saya merasa telah menemukan panggilan hidup saya dan bahwa sudah menjadi tugas saya untuk mengabdikan diri pada pemulihan ekosistem laut.
Tentu saja untuk melakukan hal diatas, niat saja ternyata tidak cukup. Untuk bekerja profesional melakukan konservasi, saya butuh "lisensi" resmi dan alat yang memadai. Saat ini, saya terbentur biaya untuk:
Sertifikasi Profesional: Saya harus mengambil kelas Rescue Diver & Divemaster. Ini syarat mutlak supaya saya bisa memimpin kegiatan jaga laut dengan standar keselamatan yang tinggi.
Alat Selam Sendiri: Selama ini saya masih pinjam alat selam. Padahal, untuk memantau karang setiap hari secara konsisten, saya butuh alat selam pribadi demi keamanan kerja.
Rencana Penggunaan Dana Setiap bantuan dari teman-teman akan saya gunakan dengan penuh amanah untuk:
Biaya kursus dan ujian sertifikasi selam profesional (Rescue & Divemaster).
Membeli alat selam (BCD, Regulator, wetsuit, fins, boots, SMB dan Komputer Selam).
Saya membutuhkan bantuan teman-teman Setiap rupiah yang teman-teman berikan bukan cuma membantu biaya pelatihan saya, tapi juga investasi nyata untuk masa depan laut Indonesia. Saya ingin terus merawat karang di Flores dan memastikan anak cucu kita nanti masih bisa melihat indahnya bawah laut Flores.
Mari jadi bagian dari perjalanan saya. Dukung saya jadi "Penjaga Laut" yang tangguh!
Cara Donasi:
Klik tombol "DONASI SEKARANG"
Masukkan nominal donasi.
Pilih metode pembayaran.
Bagikan link ini ke grup WhatsApp atau media sosial teman-teman ya!
Terima kasih banyak atas doa dan ketulusan hati Anda. Salam hangat dari Flores untuk laut Indonesia!
Daftar Budget :
Rescue : Rp 3.350.000
DMT : Rp 11.500 000
Dive comp dgn GPS & mapping : Rp 11.000.000
BCD : Rp 9.000.000
Regulator : Rp 13.000.000
Wetsuit : Rp 3,000,000
Fins: Rp 1,000.000
Boots : Rp 400.000
SMB & reel : Rp 800.000
Pisau : 800,000
Bagikan tautan ke media sosial