Ada anak-anak yang sejak kecil harus belajar menerima kehilangan. Ada yang harus tumbuh lebih cepat karena keadaan. Dan ada yang tetap berusaha tersenyum meski hidup tidak memberikan banyak pilihan.

Salah satunya adalah Isna.
Isna adalah seorang anak yatim yang saat ini menuntut ilmu di Pesantren Nurul Yaqin. Sejak usianya baru menginjak 6 bulan, Isna harus kehilangan sosok ayah tercinta yang menjadi tulang punggung keluarga.

Kini, Isna menjalani hari-harinya bersama sang nenek yang sudah lanjut usia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang nenek hanya mengandalkan hasil mencari dan mengumpulkan buah asam yang kemudian dijual kepada warga sekitar.

Dari pekerjaan sederhana itu, sang nenek hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp10.000.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Isna tetap memiliki semangat yang luar biasa untuk belajar.Isna pergi ke sekolah tanpa sepatu. Tanpa tas sekolah. Ia hanya mengenakan pakaian sederhana yang kondisinya sudah lusuh dan usang.

Ketika anak-anak lain mungkin memiliki perlengkapan sekolah yang lebih lengkap, Isna tetap melangkah dengan apa yang ia punya.
Melalui halaman galang dana ini, kami mengajak untuk
bersama-sama hadir memberikan dukungan bagi Isna dan anak-anak yatim
prasejahtera lainnya agar mereka dapat terus melanjutkan pendidikan dengan
lebih layak serta memenuhi kebutuhan mendesak yang mereka hadapi.
Ada anak-anak yang sejak kecil harus belajar menerima kehilangan. Ada yang harus tumbuh lebih cepat karena keadaan. Dan ada yang tetap berusaha tersenyum meski hidup tidak memberikan banyak pilihan.

Salah satunya adalah Isna.
Isna adalah seorang anak yatim yang saat ini menuntut ilmu di Pesantren Nurul Yaqin. Sejak usianya baru menginjak 6 bulan, Isna harus kehilangan sosok ayah tercinta yang menjadi tulang punggung keluarga.

Kini, Isna menjalani hari-harinya bersama sang nenek yang sudah lanjut usia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sang nenek hanya mengandalkan hasil mencari dan mengumpulkan buah asam yang kemudian dijual kepada warga sekitar.

Dari pekerjaan sederhana itu, sang nenek hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp10.000.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Isna tetap memiliki semangat yang luar biasa untuk belajar.Isna pergi ke sekolah tanpa sepatu. Tanpa tas sekolah. Ia hanya mengenakan pakaian sederhana yang kondisinya sudah lusuh dan usang.

Ketika anak-anak lain mungkin memiliki perlengkapan sekolah yang lebih lengkap, Isna tetap melangkah dengan apa yang ia punya.
Melalui halaman galang dana ini, kami mengajak untuk
bersama-sama hadir memberikan dukungan bagi Isna dan anak-anak yatim
prasejahtera lainnya agar mereka dapat terus melanjutkan pendidikan dengan
lebih layak serta memenuhi kebutuhan mendesak yang mereka hadapi.
Bagikan tautan ke media sosial